Survei - Indo Barometer
PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL 2009 – 2014
IB - Rabu, 09 September 2009
Survei - Indo Barometer
Pengetahuan dan Harapan Masyarakat Terhadap Pemilu 2009?
IB - Senin, 19 Januari 2009
Survei - Indo Barometer
Mencari Pemimpin (muda) Baru Indonesia?
IB - Rabu, 16 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Berpacu Dalam Pemilu
IB - Rabu, 09 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
SBY–JK Tergelincir BBM?
IB - Kamis, 03 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Islam: Potensi Teror Terbuka
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Visioner, Dambaan Publik Terhadap Pemimpin Politik
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Publik Kecewa Kinerja Parpol
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Kinerja Pemerintah Bidang Keamanan Nasional Positif
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Bukan Ahlinya & Bisa Kuras Negara 100 M

Lembaga Survei Tolak KPU Bikin Quick Count

 

Rakyat Merdeka, 23 Januari 2009
Beberap lembaga survei menentang keinginan Komisi Pemilihan Umum membuat perhitungan cepat atau quick count untuk hasil pemilu legeslatif . selain tak punya keahlian, niatan tersebut bias menguras uang Negara sekitar Rp 100 miliar.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei  Nasional (LSN) Umar S Bakry menegaskan KPU tidak punya keahlian dibidang quick count.

Lebih baik, komisi pimpinan Abdul Hafiz Anshary itu, fokus dengan pelaksanaan tahapan pemilu.

Perlu dipahami, kata Umar, quick count bukan hanya persoalan menjumlahkan hasil perolehan suara di setiap tempat pemungutan suara (TPS), tapi ada metodologi yang harus diperhatikan.

“KPU hanya punya kapasitas mengerjakan hal seperti itu. KPU tidak dididik untuk jadi ahli quick count, tetapi sebagai penyelenggara pemilu. Kalau ngurusi quick count juga menimbulkan masalah,” kata Umar kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Terkait anggaran, Umar menjelaskan, dalam setiap quick count atau survei, lembaga survei mengeluarkan dana antara Rp 600 juta hingga 1 miliar.

“Kalau yang garapnya KPU, mungkin nilainya bias mencapai Rp 100 milyar. Daripada menguras anggaran pemerintah, lebih baik KPU konsentrasi pada pekerjaanya,” jelasnya.

Dia kwatir akan timbukl masalah kalau KPU mengendalikan quick count.

“Kalau hasil quick count beda dengan hitungan manual, parpol-parpol bias ngamuk. Ini justru memperburuk citra KPU,” katanya.

Ditanya apakah penolakan lembaga survei  merasa tersaingi, Umar menolaknya. Ita tidak merasa tersaingi. Justru ini akan jadi tantangan bagi lembaga survei untuk membuktikan siapa yang paling kredibel dalam melakukan quick count,” ujarnya.

Senada dengan LSN, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin Yazid meragukan kemmpuan KPU melakukan quick count.

Husin kwatir langkah KPU ini bias membuat kerancuan dan konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Publik akan bingung, KPU ini lembaga apa? Belum lagi jka hasil quick count KPU ternyata berbeda dengan hasil rekapitulasi akhir mereka. Ini akan menimbulkan polemik,” ujarnya.

Ditanya berapa anggaran untuk sekali quick count, husin mengatakan dana yang dikeluarkan beragam tergantung berapa luas dan banyak sampel.

Dia mencontohkan saat Pukaptis melakukan survei di 38 kabupaten/kota Jawa Timur dengan jumlah sampel 400 orang.

“Itu saja sudah memakan biaya 400 hingga 600 juta. Saya nggak tahu berapa dana yang akan dikeluarkan kalau KPU yang melakukan quick count,” jelas.

Karena itu, Husin mengingatkan agar KPU focus saja dengan pekerjaan karena banyak tahapan pemilu belum rampung.

Sebelumnya, KPU berencana membuat sistem perhitungan cepat (quick count) hasil pemilu legeslatif.

Cara ini dinilai pentig untuk transparansi penghitungan suara. “KPU sedang menyiapkan teknologi informasi untuk mendukung hitung cepat yang dilaksanakan internal KPU itu,” kata anggota KPU Andi NUrpati.

Namun Andi menepis anggapan system baru ini akan menelan anggaran besar. Penghitungan cepat oleh KPU, kata Andi, hanya melanjutkan dari system informasi yang telah diterapkan pada Pemilu 2004. “Mikanisme akan diatur nanti. Yang jelas tidak akan ada banyak tambahan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer Mohammad Qodari mengatakan, KPU juga perlu melakukan hitung cepat sebagai sarana bagi masyarakat yang ingin segera mengetahui hasil pemilu legeslatif.

“Yang  jelas  quick count harus sama dengan manual. Kalau nantinya berbeda, manual harus jadi patokan sesuai undang-undang,” kata Qodari kepada Rakyat Merdeka kemarin.

Ditanya apa lembaga survey merasa disaingi, Qodari menjawab,” tidak ada yang tersaingi, justru makin bagus karena akan kelihatan siapa yang lebih kredibel (KPU atau lembaga survei). Biar waktu yang membuktikan.” Kal/Vin
 

Indikator IB

Pelaksanaan Pemilu 2009

Persoalan pengetahuan pemilih tentang pelaksanaan pemilu 2009 cukup menghawatirkan. Baru separuh (51,8% ) dari pemilih yang mengetahui dengan benar kapan pemilu legislatif 2009 akan dilaksanakan, yakni 9 April 2009. itu artinya, sosialisasi KPU masih belum optimal.

Lihat Hasil Survei....

Indikator IB

Pendaftaran Pemilih

Pemilu 2009 terancam oleh Golput Administratif. Baru sebanyak 67,2% responden yang merasa sudah terdaftar sebagai pemilih pada pemilu nanti. Ini angka yang mengkhawatirkan karena mengindikasikan potensi “golput administratif” terbilang besar.

Lihat Hasil Survei....

 
Analisa - M. Qodari
Multiperspektif Prabowo Subianto
IB - Minggu, 10 Agustus 2008
Analisa - M. Qodari
Kiprah dan Nasib Partai-Partai Baru di Pemilu 2009
IB - Minggu, 20 Juli 2008
Analisa - M. Qodari
Golkar dan Bumerang Politik
IB - Senin, 30 Oktober 2006
Analisa - M. Qodari
Gempa, Gosip, dan Akal Sehat
IB - Sabtu, 29 Juli 2006
Analisa - M. Qodari
PDI-P, Oposisi Mencari Posisi
IB - Selasa, 17 Januari 2006
Analisa - M. Qodari
Antiklimaks "Reshuffle" Kabinet
IB - Selasa, 22 November 2005
Analisa - M. Qodari
Pilkada Gagal atau Berhasil?
IB - Senin, 01 Agustus 2005
Analisa - M. Qodari
Partai demokrat dicampakkan SBY?
IB - Senin, 07 Februari 2005
Analisa - M. Qodari
Nasib Kaum Muda Progresif di NU
IB - Kamis, 02 Desember 2004
Analisa - M. Qodari
Saatnya "Baku Bae" di DPR
IB - Sabtu, 06 November 2004
Analisa - M. Qodari
Gugatan Wiranto, Konstelasi Politik Baru?
IB - Selasa, 03 Agustus 2004
Analisa - M. Qodari
Otoritarianisme Baru dan Desain Institusi
IB - Sabtu, 08 Mei 2004
Copyright © 2008 Indo Barometer, All Rights Reserved
IB (INDO BAROMETER), Jl. Cikatomas I No. 29, Kebayoran Baru, Jakarta 12180, Tlp. 62-21-7260588 Fax 62-21-7248573