Survei - Indo Barometer
PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL 2009 – 2014
IB - Rabu, 09 September 2009
Survei - Indo Barometer
Pengetahuan dan Harapan Masyarakat Terhadap Pemilu 2009?
IB - Senin, 19 Januari 2009
Survei - Indo Barometer
Mencari Pemimpin (muda) Baru Indonesia?
IB - Rabu, 16 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Berpacu Dalam Pemilu
IB - Rabu, 09 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
SBY–JK Tergelincir BBM?
IB - Kamis, 03 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Islam: Potensi Teror Terbuka
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Visioner, Dambaan Publik Terhadap Pemimpin Politik
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Publik Kecewa Kinerja Parpol
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Kinerja Pemerintah Bidang Keamanan Nasional Positif
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Menyederhanakan dengan Restriksi atau Alamiah?

Republika; Kamis, 25 September 2008

 

Indonesia menganut sistem presidensial. Tapi, sampai saat ini menganut sistem multipartai seperti yang diterapkan di negara-negara yang menganut sistem parlementer. Lantas, ba­gaimanakah caranya menyederha­nakan sistem kepartaian agar kom­patibel dengan sistem presidensial?

Ada sejumlah cara penyederhana­an partai yang pernah dij alankan di Indonesia. Presiden Soekarno per­nah menginginkan sistem satu partai seperti yang diterapkan di negara­negara komunis. Dia ingin mendiri­kan sebuah partai negara (staatspar­tij). Tapi, rencana itu tidak berjalan. Partai-partai tetap berdiri.

Wakil Presiden Muhammad Hatta mengeluarkan Maklumat 3 Novem­ber 1945 yang menyatakan pemer­intah menjukai timbulnya partai­partai politik, karena dengan adanja partai-partai itulah dapat dipimpin ke djalan jang teratur segala aliran paham jang ada di dalam masjara­kat. Partai-partai pun menjamur.

Sebenarnya, tanpa maklumat itu pun, era multipartai tak bisa diben­dung. Ketua Majelis Syura Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan partai-partai sudah ber­diri sebelum maklumat terbit. Partai Politik Islam Indonesia Masjumi mis­alnya, berdiri 5-7 November 1945. PNI juga berdiri Oktober 1945.

"Kenapa maklumat itu dikelu­arkan, karena enam bulan lagi atau Januari 1946 akan digelar pemilu. Anggota DPR hasil pemilu selan­jutnya membahas konstitusi," kata Yusril dalam diskusi internal Repub­lika, pertengahan September.

Tapi eksperimen berpartai itu ber­akhir di tangan Soekarno. Partai­partai legendaris dan berkarakter seperti Masjumi, Murba, dan PSI, dibubarkan oleh Soekarno. Soe­karno pun tampil dengan Demokrasi Pancasila —yang menurut Hatta da­lam tulisannya 'Demokrasi Kita' se­mua ada dalam Demokrasi Panca­sila, kecuali demokrasi.

Di era Orde Baru, Presiden Soehar­to juga tak membuka lebar keran kepartaian. Pemilu 1971 hanya boleh diikuti 10 partai. Selanjutnya, ke-10 partai itu pun dipaksa untuk fusi. Selama lima kali pemilu, sejak Pe­milu. 1977 hingga Pemilu 1997, hanya tiga partai yang diizinkan berkom­petisi, yaitu Golkar, PPP, dan PDI.

Soal mengapa disisakan tiga partai, Yusril mengaku pernah mendatangi salah seorang arsitek Orba, Ali Moertopo. "Pak Ali Moertopo bilang PDIP itu partai materiil-spi­rituil, PPP partai spiritual materiil, dan Golkar partai yang seimbang," kata Yusril sambil tertawa. Dia mengaku tak mengerti apa maksud pembagian yang aneh itu.

Di era reformasi, cara-cara pena­nganan represif kepada partai telah mundur dari pentas. Tapi, restriksi tetap diterapkan. Antara lain berwujud lewat electoral threshold dan parliamentary threshold. Meski demikian, ketentuan restriktif yang disepakati dan diperbolehkan di negara-negara demokrasi ini, belum ampuh menyederhanakan partai. Apalagi, penerapannya inkonsisten.

Lantas, cara apa lagi yang tersisa? Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, menawarkan penerapan pemilu sistem distrik. Menurut dia, semua matematika ilmu sosial tidak ada yang pasti, kecuali yang satu ini.

"Terapkan sistem distrik, jumlah partai pasti berkurang," katanya dalam diskusi internal Republika.

Sistem distrik sempat mencuat di awal era reformasi. Tapi, penerapannya sampai kini belum mendapat sambutan hangat dari politisi mau­pun akademisi di Indonesia. Salah satu alasan yang seram adalah pengalaman Brazil, yang ternyata menghasilkan banyak wakil rakyat berlatar belakang preman.

Yusril berpendapat dalam masya­rakat Indonesia yang majemuk sulit membendung lahirnya partai. Tapi, "Biarkan saja partai-partai itu ber­diri, sampai orang kapok dan capek membuat partai. Kecuali kalau kita memang mau menerapkan cara-cara seperti Soeharto [untuk menyeder­hanakan partai]," katanya.

Yusril yang juga pakar hukum tata negara ini mengaku percaya pada mekanisme alamiah untuk menyederhanakan partai. Dan, dia melihat proses seleksi alamiah itu sudah mulai tampak gejalanya. "Lihat saja sekarang partai kesulitan mencari caleg, sampai-sampai harus beriklan di koran," katanya, sambil tertawa.

Mantan ketua Panitia Khusus RUU Partai Politik, Ganjar Pranowo, sependapat dengan Yusril. Dia mengatakan sebaiknya bukan negara yang melakukan kontrol atas partai, tapi masyarakat. "Saya kira vonis masyarakat terhadap partai, sudah mulai ada. Contohnya PDIP yang pada Pemilu 1999 menang, tapi dalam perjalannya tidak bekerja maksimal akhirnya tidak dipilih di Pemilu 2004," katanya.

Karena itu, kata Ganjar, aborsi partai politik yang pernah terjadi di masa lalu tak perlu diidamkan lagi "Biarlah yang membatasi partai adalah democratic election."

Berdemokrasi, kata Yusril, memang terkadang melelahkan dan bertele-tele. Tapi, dia mengatakan Indonesia sudah menempuh jalan dan tidak mungkin mundur ke belakang. (dwo/run)
 

 

Indikator IB

Pelaksanaan Pemilu 2009

Persoalan pengetahuan pemilih tentang pelaksanaan pemilu 2009 cukup menghawatirkan. Baru separuh (51,8% ) dari pemilih yang mengetahui dengan benar kapan pemilu legislatif 2009 akan dilaksanakan, yakni 9 April 2009. itu artinya, sosialisasi KPU masih belum optimal.

Lihat Hasil Survei....

Indikator IB

Pendaftaran Pemilih

Pemilu 2009 terancam oleh Golput Administratif. Baru sebanyak 67,2% responden yang merasa sudah terdaftar sebagai pemilih pada pemilu nanti. Ini angka yang mengkhawatirkan karena mengindikasikan potensi “golput administratif” terbilang besar.

Lihat Hasil Survei....

 
Analisa - M. Qodari
Multiperspektif Prabowo Subianto
IB - Minggu, 10 Agustus 2008
Analisa - M. Qodari
Kiprah dan Nasib Partai-Partai Baru di Pemilu 2009
IB - Minggu, 20 Juli 2008
Analisa - M. Qodari
Golkar dan Bumerang Politik
IB - Senin, 30 Oktober 2006
Analisa - M. Qodari
Gempa, Gosip, dan Akal Sehat
IB - Sabtu, 29 Juli 2006
Analisa - M. Qodari
PDI-P, Oposisi Mencari Posisi
IB - Selasa, 17 Januari 2006
Analisa - M. Qodari
Antiklimaks "Reshuffle" Kabinet
IB - Selasa, 22 November 2005
Analisa - M. Qodari
Pilkada Gagal atau Berhasil?
IB - Senin, 01 Agustus 2005
Analisa - M. Qodari
Partai demokrat dicampakkan SBY?
IB - Senin, 07 Februari 2005
Analisa - M. Qodari
Nasib Kaum Muda Progresif di NU
IB - Kamis, 02 Desember 2004
Analisa - M. Qodari
Saatnya "Baku Bae" di DPR
IB - Sabtu, 06 November 2004
Analisa - M. Qodari
Gugatan Wiranto, Konstelasi Politik Baru?
IB - Selasa, 03 Agustus 2004
Analisa - M. Qodari
Otoritarianisme Baru dan Desain Institusi
IB - Sabtu, 08 Mei 2004
Copyright © 2008 Indo Barometer, All Rights Reserved
IB (INDO BAROMETER), Jl. Cikatomas I No. 29, Kebayoran Baru, Jakarta 12180, Tlp. 62-21-7260588 Fax 62-21-7248573