|
Seputar Indonesia; Minggu, 10 Agustus 2008
Jika nama Prabowo Subianto disebut, apa yang akan muncul di kepala Anda? Tentu tergantung bagaimana anda mengingatnya. Sosok Prabowo Subianto (PS) dapat dilihat setidaknya menggunakan dua perspektif. Perama, perspektif waktu. Kedua, perspektif pencitraan.
Dalam perspektif waktu, ada empat fase besar dalam sosok PS. Fase pertama adalah fase "rising star" PS sebagai perwira militer di era Orde Baru. Fenomena "rising star" itu ditandai dengan kenaikan pangkat PS yang sangat cepat melampaui kawan-kawan seangkatan dan seniornya di Akabri. Ia menadi letnan jenderal termuda.
Fenomena "rising star" itu juga ditandai dengan tiga hal lainnya. Pertama, operasi pembebasan sandera yang ditahan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Irian Jaya. Operasi ini mendapat liputan luas media massa. PS dan pasukan yang membebaskan para sandera dipuji-puji dan disetarakan dengan pasukan elite terkenal, seperti SAS Inggris, misalnya.
Kedua, keberhasilan misi pendaki gunung termasuk anggota Kopassus yang berhasil mencapai puncak Himalaya, gunung tertinggi di dunia. Keberhasilan menancapkan bendera Merah Putih di Indonesia diajukan sebagai bukti kemampuan manusia Indonesia untuk berprestasi di tingkat dunia.
Ketiga, pemekaran Kopassus menuju postur militer yang lebih besar daripada sebelumnya. Di situ status Kopassus sebagai pasukan elite Indonesia semakin meningkat. Hal ini dibarengi kenaikan pangkat Komandan Kopassus yang berarti kenaikan pangkat PS sebagai sang komandan. PS sendiri dikabarkan banyak memfasilitasi secara pribadi aneka fasilitas dan perlengkapan Kopassus.
Berkebalikan dengan fase pertama sebagai "rising star", fase kedua PS justru ditandai dengan "the downfall" atau kejatuhan seorang PS. Kejatuhan PS berbarengan dengan dinamika politik yang berujung pada kejatuhan rezim Orde Baru. Langsung atau tidak langsung, PS dianggap ikut bertanggung jawab terhadap penculikan sejumlah aktivis politik anti Orde Baru.
Di titik ini orang sering menyebut kecepatan naik PS sama cepatnya dengan kejatuhannya. Karier militer PS berhenti pada pangkat letnan jenderal. Setelah itu, PS sempat "menghilang" dari dunia politik Indonesia. Diberitakan bahwa PS pindah kapling ke dunia bisnis, terutama di Timur Tengah. PS berbisnis dengan saudaranya, Hasyim Djojohadikusumo, seorang pengusaha besar. Juga dengan Raja Yordan, yang disebut-sebut sebagai kawannya.
Namun, naluri politik PS tampaknya memang tidak pernah betul-betul padam. Tidak menunggu lama, pintu "comeback" ke dunia politik itu terbuka pada 2003 dengan diselenggarakannya konvensi memilih calon presiden dari Partai Golkar. Inilah fase ketiga seorang PS. Fase ketika ia maju sebagai calon presiden. PS ikut bertarung dalam konvensi melawan sejumlah calon lainnya, seperti Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Wiranto, orang yang disebut-sebut sebagai rival abadinya.
Konvensi diselenggarakan dalam beberapa putaran. PS sempat lolos sampai putaran akhir, tetapi kalah dukungan dengan calon lainnya yang ujungnya dimenangkan Wiranto. Dalam rangka meraih dukungan publik dan pe,ngurus Golkar, pada 2003 itu PS banyak mengeluarkan iklan politik di media massa. Dalam iklan itu, PS berjanji membawa Indonesia untuk kembali menjadi "Macan Asia" yang disegani seperti sebelum era krisis moneter.
Kegagalan menjadi capres Golkar lima tahun lalu belum membuat PS kapok dengan politik. Tahun 2008 ini, naluri politik PS terbit kembali. Tidak tanggung-tanggung, demi menjembatani ambisi politiknya, PS menyiapkan kendaraan politik sendiri. Dibantu para koleganya, ia mendirikan partai yang diberi nama Gerindra (Gerakan Rakyat Indonesia Raya) dalam waktu yang sangat singkat. Setelah Gerindra dinyatakan lolos oleh KPU sebagai peserta Pemilu 2009, PS langsung tancap gas. Ia menyatakan keluar dari Golkar dan beriklan dengan gencar.
PS serius menjadi capres. Hal ini terbaca dari dua hal. Pertama, ini mau bersusah payah dan mengeluarkan dana besar untuk membangun partai baru. Kedua, ia beriklan dengan gencar. Iklan yang pertama untuk Gerindra, iklan yang kedua untuk dirinya sendiri. Semua iklan itu ditayangkan secara intensif di televisi nasional. Saya kira pada hari-hari ini Gerindra dan PS kini merupakan parpol dan capres yang paling banyak beriklan di media massa. Pertanyaannya, pertama, seberapa lama PS mampu beriklan semacam ini? Kedua, seberapa efektifkah iklan-iklan itu dalam mendongkrak popularitasnya?
Untuk soal pertama, hanya PS dan teman-temannya yang tahu pasti jawabnya. Yang jelas, beriklan di televisi itu mahal. Sementara masa kampanye Pemilu Legislatif 2009 kali ini jauh lebih lama daripada Pemilu 2004. Dulu hanya tiga minggu, sekarang Sembilan bulan. Jika tidak memiliki stamina yang kuat dan pandai mengatur napas, PS dan Gerindra bisa kehabisan nafas di tengah jalan dan disalip capres dan parpol lainnya.
Untuk soal kedua, tentu perlu survei yang akurat dan ilmiah untuk mengukur seberapa jauh popularitas PS terdongkrak oleh iklan-iklan politiknya. Kalau iklannya mengena, popularitas meningkat. Jika tidak, popularitas itu akan stagnan. Hasil survei Indo Barometer Juni 2008 menunjukkan bahwa posisi PS belum beranjak dari kelas ringan. Artinya, dukungan publik masih kecil. Di antara empat capres berlatar militer, posisi PS masih kalah dengan Yudhoyono dan Wiranto meski sedikit di atas Sutiyoso.
Bahkan, kalau capres dari latar sipil diikutkan, posisi PS masih kalah dengan banyak tokoh yang notabene belum memasang iklan. Misalnya, Megawati, Sultan HB X, Hidayat Nur Wahid, Gus Dur, atau Amien Rais. Jadi, PS memang masih harus banyak kerja keras jika ingin bersaing dengan para capres lainnya.
Pada titik inilah strategi pencitraan PS menjadi penting. Secara umum, PS sudah membuat strategi yang benar ketika ia membidik segmen tertentu dalam masyarakat (petani dan nelayan). PS membangun citra sebagai tokoh yang peduli pada petani dan nelayan. Namun, efektivitasnya tergantung pada eksekusi program sosialisasi atas segmentasi itu. Selain itu, citra baru PS ini akan selalu berkompetisi dengan memori lama publik tentang sosok PS yang dianggap melanggar HAM karena menculik para aktivis dan pernah gagal dalam konvensi Golkar 2004. (*)
|