Survei - Indo Barometer
PROSPEK KABINET DAN KOALISI PARPOL 2009 – 2014
IB - Rabu, 09 September 2009
Survei - Indo Barometer
Pengetahuan dan Harapan Masyarakat Terhadap Pemilu 2009?
IB - Senin, 19 Januari 2009
Survei - Indo Barometer
Mencari Pemimpin (muda) Baru Indonesia?
IB - Rabu, 16 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Berpacu Dalam Pemilu
IB - Rabu, 09 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
SBY–JK Tergelincir BBM?
IB - Kamis, 03 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Islam: Potensi Teror Terbuka
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Visioner, Dambaan Publik Terhadap Pemimpin Politik
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Publik Kecewa Kinerja Parpol
IB - Selasa, 01 Juli 2008
Survei - Indo Barometer
Kinerja Pemerintah Bidang Keamanan Nasional Positif
IB - Selasa, 01 Juli 2008

Liputan Media

Liputan - Liputan Media
Peta Koalisi Segera Berubah
IB - Rabu, 08 April 2009
Liputan - Liputan Media
JK-Hidayat Berpotensi Menang
IB - Rabu, 08 April 2009
Liputan - Liputan Media
Pemerintah Harus Turun Tangan
IB - Rabu, 28 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Realisasi Janji Politik Kampanye Efektif
IB - Rabu, 28 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Bukan Ahlinya & Bisa Kuras Negara 100 M
IB - Jumat, 23 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Pemilih Tak Tahu Mencontreng, Bukti Sosialisasi Pemilu Minim
IB - Selasa, 20 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Survei:KPU Lemah Sosialisasi
IB - Selasa, 20 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Potensi Golput secara Administratif Tetap Besar
IB - Senin, 19 Januari 2009
Liputan - Liputan Media
Menyederhanakan dengan Restriksi atau Alamiah?
IB - Kamis, 25 September 2008
Nasib Kaum Muda Progresif di NU
KOMPAS - Kamis, 02 Dec 2004
                                         
MENJELANG Muktamar Ke-31 Nahdlatul Ulama (NU), 28 November-2 Desember 2004, ada berita penolakan KH Subadar terhadap aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) di struktur organisasi NU. Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Pasuruan, ini mendesak agar struktur
NU pusat maupun daerah dibersihkan dari aktivis JIL (Tempo Interaktif, 23 November 2004).
    
Alasan KH Subadar menolak eksponen JIL karena pemikirannya dianggap tidak cocok dengan NU. Kiai Subadar menyebut Ulil Abshar  Abdalla, koordinator JIL, yang juga Ketua Lajnah Penelitian dan  Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai contoh  aktivis JIL yang pemikirannya tidak sesuai dengan NU. KH Subadar juga menyebut Masdar F MasÆudi sebagai tokoh muda NU yang  pemikirannya "menyimpang". Masdar bukan eksponen JIL. Karena itu, penolakan KH Subadar bukan masalah JIL secara khusus, tetapi sikapnya secara umum terhadap kaum muda dan pemikiran keagamaan selama ini.
Pernyataan KH Subadar ini penting, bukan hanya karena beliau  adalah salah satu kiai sepuh berpengaruh, tetapi juga menunjukkan  seberapa besar peluang kaum muda dan pemikirannya yang progresif  mendapat tempat di NU, di masa kini dan masa datang. NU adalah ormas  Islam terbesar di Indonesia. Akomodasi atau penolakan NU terhadap  kaum muda dan pemikirannya menentukan masa depan bukan hanya NU, tetapi juga wajah Islam Indonesia dai masa datang.
    
Fakta bahwa wakil kaum muda progresif seperti Masdar dan Ulil terakomodasi dalam struktur kepengurusan NU menunjukkan organisasi NU dan tokoh di dalamnya tidak sepenuhnya anti-terhadap orang dan pemikirannya yang dianggap "menyimpang" atau berbeda dengan tafsir
umum. Dengan begitu, sampai sejauh ini NU tampak cukup lentur mengakomodasi perbedaan pemikiran keagamaan dalam tubuhnya sendiri.
    
Namun, fakta bahwa anak-anak muda NU mendirikan "bengkel kerja" untuk mengolah gagasan di luar struktur NU mengindikasikan terbatasnya daya akomodasi NU. Contoh, Ulil dan kawan-kawan (tidak semuanya NU) pengusung Islam liberal membangun markas di Utan Kayu, Jakarta. Atau sejumlah aktivis muda NU yang mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta, yang dianggap mempromosikan Islam kiri. Pertanyaannya, mengapa anak-anak muda ini tak menyalurkan kegelisahannya dalam program resmi NU?
    
Jawabannya sederhana. Dari dulu banyak tokoh senior yang tidak nyaman dengan eksperimen pemikiran dan gerakan kaum muda NU, seperti JIL dan LKIS. Untung ada Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang memberi "suaka" atau perlindungan kepada anak-anak muda yang kerap
dijuluki "lÆenfant terribles" ini untuk mendapat kesempatan berkiprah. Gus Dur mampu memberi suaka karena posisinya tak tertandingi di NU saat itu: Ketua Tanfidziyah NU, cucu pendiri NU,
dan intelektual par excellent.
    
Masalahnya, sejak era Reformasi, waktu dan perhatian Gus Dur lebih banyak untuk politik. Gus Dur lebih banyak mengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) selaku organ politik resmi NU. Apalagi sejak terpilih sebagai Presiden RI tahun 1999, Gus Dur kian besar mengurus bangsa dan negara. Pertarungan politik antara Gus Dur dan Poros Tengah jilid II yang hendak memecatnya dari posisi presiden kian meminggirkan nasib kaum muda NU dari perhatiannya.
    
Kini Gus Dur tak lagi menjadi presiden meski masih aktif mengurus PKB. Adanya permintaan agar Gus Dur kembali menjadi salah satu pucuk pimpin NU adalah kabar baik bagi terbukanya ruang gerak kaum muda dan pemikiran keagamaan mereka. Jika tidak kembali aktif di NU, Gus Dur harus mengusulkan alternatif pucuk pimpinan yang mau terbuka dengan kaum muda dan aneka gagasan yang mereka lontarkan. Lebih baik lagi jika pimpinan NU yang baru mau membuka ruang gerak yang lebih besar daripada yang sudah diberikan selama ini.
    
GUS Dur dan tokoh senior NU lain yang menghargai kebebasan berpikir dan percaya dengan the idea of progress tidak boleh abai dengan kemungkinan naiknya faksi ulama-ulama konservatif ke puncak organisasi NU. "Pembersihan" sistematis pengurus NU dari kaum muda
akan menimbulkan kerugian bagi NU, baik dalam jangka pendek maupun
jangka panjang.
    
Dalam jangka pendek, NU akan dirugikan karena citra buruk. Selama ini NU dikenal sebagai organisasi moderat. Citra moderat akan terhapus karena NU tidak mampu menghargai perbedaan pandangan dan pendapat dalam tubuhnya sendiri. Seharusnya perbedaan di ormas tidak diselesaikan dengan cara pembersihan atau "pemecatan". NU adalah ormas, bukan partai politik di mana perbedaan pendapat cenderung diminimalisasi atas nama disiplin partai.
   
 Dalam jangka panjang, dikeluarkannya kaum muda, NU akan kehilangan generasi penerus yang cerdas, artikulatif, dan berwawasan luas. Pada gilirannya generasi tua harus mengangsurkan tongkat kepemimpinan kepada generasi baru. Suka atau tidak, anak-anak muda NU memiliki kemampuan artikulasi lisan maupun tulisan amat baik. Kiprahnya pun telah menjangkau dunia internasional. Kader-kader dengan kualitas semacam inilah yang sesuai kebutuhan zaman.
    
Hampir 70 tahun sejak NU didirikan tahun 1926, NU telah menjadi organisasi Islam yang besar. Untuk tetap besar, NU harus terus menemukan dan merumuskan pendekatan dan strategi baru menghadapi tantangan zaman. Hal ini hanya bisa terjadi apabila kaum muda-orang-orang yang secara alamiah cenderung lebih bisa menangkap spirit zaman-diberi tempat untuk berkembang dan memengaruhi gerakan. Menyingkirkan kaum muda kini sama dengan membunuh masa depan NU sendiri.
    
Muhammad Qodari
Direktur Riset, Lembaga Survei Indonesia (LSI), Jakarta; Tulisan ini
adalah pendapat pribadi
 
 

Direktur Eksekutif

Muhammad Qodari, S.Psi, MA, adalah seorang pengamat dan peneliti politik nasional. Berbagai ulasan dan analisanya kerap menjadi rujukan media massa, baik cetak maupun elektronik.

Copyright © 2008 Indo Barometer, All Rights Reserved
IB (INDO BAROMETER), Jl. Cikatomas I No. 29, Kebayoran Baru, Jakarta 12180, Tlp. 62-21-7260588 Fax 62-21-7248573