|
KOMPAS - Sabtu, 29 Jul 2006 Oleh: M Qodari
Pascagempa di Yogyakarta dan sekitarnya, akhir Mei lalu, Lingkaran Survei Indonesia menyelenggarakan survei untuk mengetahui respons masyarakat terhadap penanganan gempa oleh pemerintah.Populasi survei adalah masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Survei sejenis pernah dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Nanggroe Aceh Darussalam yang pernah terkena bencana.
Respons masyarakat Selain respons masyarakat atas penanganan gempa, juga ditanyakan hal-hal lain yang berkembang di masyarakat, misalnya, kepercayaan, bencana alam beruntun adalah peringatan alam terhadap pemimpin dan Pemerintahan Indonesia. Temuan survei atas pertanyaan terakhir ini menarik karena persentase responden yang percaya (53 persen) lebih tinggi ketimbang yang tidak percaya (42 persen). Sisanya menjawab tidak tahu atau tidak mau menjawab.
Temuan ini menarik karena memiliki berbagai implikasi, termasuk implikasi politis. Implikasi politiknya adalah legitimasi pemerintah bisa turun (di luar sebab lain seperti ekonomi) karena bisa muncul pikiran, pemerintahtidak bisa dipertahankan karena jika bertahan bencana alam akan terus mengguncang Indonesia. Implikasi ini bisa luas jika pikiran yang sama muncul dalam kelompok masyarakat lain di berbagai penjuru Indonesia.
Pikiran seperti ini, demikian juga kepercayaan bahwa bencana alam beruntun merupakan peringatan terhadap Pemerintah Indonesia, tidak rasional, di luar akal sehat. Tetapi, pikiran seperti itu tidak bisa dinafikan keberadaannya, baik karena kultur masyarakat di Indonesia, hukum berpikir asosiatif, kurangnya penjelasan ilmiah, maupun kegagalan pemerintah untuk menangani bencana alam dengan baik. Pertama, kepercayaan pada hal-hal di luar akal sehat atau supranatural merupakan fenomena umum di masyarakat, gradasinya saja yang berbeda-beda antara satu dan kelompok lain. Buktinya, sinetron dan acara televisi yang berbau supranatural atau mistik paling marak dan tinggi peringkatnya. Konon, masih banyak pejabat pemerintah suka ke dukun untuk membuat keputusan pribadi atau politik. Kedua, dalam psikologi kognitif (cabang psikologi yang mempelajari cara berpikir manusia), ada aneka cara atau strategi berpikir, yaitu cara mengolah dan menghubungkan aneka informasi. Salah satu cara berpikir yang sering dipakai adalah berpikir asosiatif. Dalam berpikirasosiatif, dua atau beberapa hal yang berdekatan dianggap saling menjelaskan atau berkaitan, padahal belum tentu berkaitan. Berpikir asosiatif sebenarnya heuristics (jalan pintas), namun sering dipakai karena banyak dan kompleksnya informasi yang diterima otak manusia setiap saat. Kedekatan berpikir asosiatif bisa dalam hal waktu atau tempat. Ini yang terjadi di masyarakat yang mungkin tidak percaya mistik, tetapi menyimpulkan bencana alam beruntun merupakan peringatan alam. Dalam sejarah Indonesia modern, belum pernah terjadi bencana alam beruntun yang dahsyat dan tsunami besar di NAD.
Penjelasan pemerintah Ketiga, dengan masyarakat yang begitu percaya mistik, penjelasan ilmiah populer (mudah dipahami khalayak) tentang bencana alam yang diberikan pemerintah masih amat terbatas. Memang ada penjelasan lmiah dari pejabat pemerintah atau pakar geologi, namun porsi terbesar muncul di program berita dan talkshow TV yang terbatas pemirsanya. Memang, banyak penjelasan ilmiah atau tips menyelamatkan diri muncul di media, tetapi itu lebih merupakan inisiatif media bersangkutan.
Seharusnya pemerintah pusat dan daerah membuat iklan layanan masyarakat (ILM) atau program lain berisi penjelasanilmiah populer ihwal bencana alam dan tips menyelamatkan diri (plus nomor telepon penting seperti polisi, rumah sakit, BMG, dan seterusnya). ILM ini yang ditayangkan secara masif di media, khususnya televisi, untuk menjangkau seluas mungkin segmen pemirsa, termasuk mereka yang tak suka nonton berita.
Keempat, tafsir mistik akan berkembang jika tiap kali bencana memakan korban jiwa besar. Hal ini bisa dicegah bila pemerintah membangun sistem peringatan dini yang menyeluruh dan dapat diandalkan. Penggunaan teknologi modern untuk mengantisipasi datangnya bencana alam sehingga mampu meminimalkan korban akan mengikis tafsir-tafsir irasional terhadap bencana, sekaligus meningkatkan legitimasi pemerintah. Kita tidak bisa mencegah datangnya gempa, tetapi bisa mencegah banyaknya korban jiwa, mengurangi kepanikan masyarakat akibat gosip dalam bentuk layanan pesan pendek (SMS) dengan memberi nomor BMG atau call centre yang mudah dihubungi. Kita tidak bisa mencegah gempa tapi bisa memberi penjelasan ilmiah dan tata cara menyelamatkan diri kepada masyarakat, sembari mengurangi tayangan berbau mistik di televisi. M Qodari Wakil Direktur Eksekutif, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Jakarta |